Militansi kelompok memang diperlukan dalam menyebar luaskan kebaikan. Namun jika melibatkan Identitas kelompok tertentu dengan iming-iming alternatif khusus dalam peribadatan atau dengan kepentingan tertentu, lalu diletakkan pada ruang kompetisi atas dasar benar dan salah atau menang dan kalah. maka terjadi bias pada keorisinilan pesan Qauliyah ilahi, multi-tafsir diantara mazhab dan ragu pada keorisinilan atas periwayatan yang sudah benar. sehingga efeknya berimbas pada persengketaan dan sekat-sekat ditengah masyarakat.
Keluar dari dogma tidak harus dengan melawannya, tapi seseorang harus tau persis kenapa dogma itu diperlukan. seperti kepada sebagian manuasia yang tidak mampu berfikir, maka dogma menjadi penting agar seminimal mungkin seseorang tidak memberikan kontribusi negatif terhadap society.
Jika dicermati lebih jauh, lebih luas dan detail pada sejarah, dari sudut pandang historisme pada masanya. peradaban tumbuh ideal, harmonis, dan adil, sejauh agama ditaati untuk membangun kultur sebuah society. Agama diwariskan dari zaman ke zaman, dengan wujud berbeda sesuai tingkat kompleksitas permasalahan ditengah masyarakatnya. Bukan soal siapa pembawa nubuwatnya, Namun pesan kebaikan dan substansial didalam agama tersebut. Fenomena antar zaman memberikan gambaran dan perbandingan, agar manusia belajar melihat bagaiman jika agama diterapkan seutuhnya atau ditinggalkan. Sepanjang peradaban, konflik pasti terjadi. Yang paling bertahan hanya mereka yang paling adaptif dan benar dalam mentaati agama pada masanya.
Dengan adanya keberagaman kelompok dengan misi kebaikan yang diembannya, semestinya mereka hanya sebagai pembuka jalan, meggambarkan orientasi dan tahap berfikir lalu saling membenarkan satu sama lain. Dengan demikian, perkembangan peradaban tidak dipelopori oleh kepentingan dari kalangan tertentu, untuk tidak menghilangkan keorisinilan pesan-pesan agama. bukannya membawa kebenerannya masing-masing dan mengkafirkan yang lain.
Paradigma berfikir suatu society tergantung pada perkembangan akses informasi dan laju perkembangan ilmunya. Di abad pertengahan hingga pasca revormasi, sulitnya informasi memberi jeda berfikir cukup lama sebelum suatu pengetahuan dibenarkan dan diterapkan. Namun diera milenial dengan modal komunikasi digital yang mudah, banjir informasi semakin memperkecil naluriah society dalam mensikapi/ mengidentifikasi ilmu. lantaran, Indikator dari proses filterisasi penyerapan pengetahuan yang rumit harus disandarkan kepada segitu banyaknya informasi yang bergulir cepat, sehingga seseorang yang memandangnya, lebih banyak melakukan Skip terhadap hal-hal rumit lalu cenderung cukup berdasar pada Kesenangan dan ketertarikan terhadap hal instan saja. dengan begitu beberapa kalangan/ kelompok tertentu dapat dengan mudah menggiring isu, dogma dan ajarannya kedalam bentuk penyampaian yang sederhana namun menyesatkan. Problematika ini perlu dipandang serius karna perbedaan jumlah dan progresitas dari masyarakat era reformasi kebelakang tidak tertransformasi secara dinamis pada peradaban era milenial.
Observasi tiap orang berbeda baik dari segi pola pikir dan pemaknaannya terhadap sesuatu. karnanya agama selalu mendorong manusia melihat relitas dari makna, bukan fisik atau materialisme, agar kompenen berfikirnya cukup matang untuk melihat representasi yang bijak dalam memahami komponen agama, sosial, dsb.
Ibadah merupakan alternatif paling efektif dalam membangun kekayaan batin manusia, sehingga dalam diri manusia tumbuh mekanisme sebagai proteksi khusus untuk melihat relatifitas dari kebenaran. Membangun stabilitas emosional menjadi filter, sebelum menjadi feedback terhadap sesuatu yang dikritisinya. Jika orang lain melempar batu kepadamu, maka kamu memiliki kedaulatan khusus untuk melempar balik atau mengambil batu itu untuk membangun pondasi kepribadian.
Islam maupun agama manapun mewariskan pesan agar manusia belajar mencari asas makna dan membentuk keunggulan personalitas dari peribadatan yang ia serap dalam agama. Lebih intensif memantau perkembangan diri untuk diimplementasikan secara mandiri melalui keberangkatan berfikir yang lebih bijaksana untuk menciptakan atmosfer kebaikan disekitarnya.
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” sebuah ayat yang memberi dorongan menuju sebuah lompatan berfikir yang dalam terhadap diri sendiri untuk mendekat kepada Tuhannya, atau dapat disebut Metakognitif. Perdebatan terjadi apabila masing-masing pelaku tidak dapat membandingkan dua jalan berfikir yang berbeda. Seseorang yang tidak sadar seberapa jauh ia telah membangun kesadarannya, maka tidak akan mengerti relatifitas pada konsepnya, sehingga sering memandang pemahaman yang ia sampaikan sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan tidak terbantahkan.
Hadirnya kebijaksanaan ialah sebagai upaya-upaya mentoleransi kurangnya analisis terhadap probabilitas dalam kebenaran. sebagai mana diperintahkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk“. (QS. An-Nahl: 125). inilah pesan-pesan yang menyeru untuk lebih bertoleransi dengan bijaksana dan renda hati, ditengah sulitnya menempatkan akurasi kebenaran dengan tepat.
By. Ngobrol Asik Anak-Bapak
https://youtube.com/c/caknundotcom


