Hal ini terasa semakin berat sejak sebagian orang harus menerima Stigma negatif dari sebagian masyarakat yang lain.

Kegiatan kolektif ini diinisiasi oleh TCSC, HMI, GMNI, Serambi Wacana dan dihadiri oleh kelompok pemuda dan beberapa organisasi lokal lainnya. Dalam diskusi online tersebut pemateri yaitu Muh. Risal, S.E yang juga selaku Ketua DPD KNPI Majene, menyampaikan berbagai dampak serius atas berbagai aspek yang akan dihadapi jika Lock Down diterapkan, diantaranya ialah konflik massal, itu salah satu faktor yang juga memberatkan Gubernur Anies Rasyid Baswedan hingga ia hanya menerapkan PSBB di wilayahnya.
Diskusi yang bertema "Persuasifikasi Lock Down; Ancaman Ekonomi dan Sosial Chaos" membongkar berbagai permasalahan serius yang terjadi ditengah masyarakat sejak pandemi memaksa siapapun untuk mengisolasi diri dari dunia luar. Kegiatan yang dilaksanakan pada sabtu, (11/4/2020) ini juga menguak berbagai persoalan yang dihadapi oleh Tenaga Medis menghadapi pasien dan lingkungannya.
Beban yang mereka jalani mulai dari jadwal kerja lebih antara 10-15 jam dengan balutan perangkat APD tanpa makan, buang air dsb, membuatnya harus berpuasa dan dikabarkan diantaranya terpaksa memakai pempers selama bekerja. selain itu mereka mesti dikarantina selama 14 hari stelah masa tugas selesai. Selain mempertaruhkan nyawa, para medis cenderung mendapatkan tekanan psikis yang luar biasa dari masyarakat sekitar dan dunia maya skaligus. Dalam berbagai stigma, mereka diklaim sebagai sumber penyebaran tercepat virus corona dan dilarang pulang ke rumah dan kos/kontrakannya, bahkan beberapa kampung terlibat melakukan penolakan terhadap jenazah yang terjangkit Virus tersebut dan yang telah terkubur dibongkar paksa hingga jenazahnya dimakamkan di kompleks Rumah sakit. Keterbatasan APD cukup menggentarkan mereka apalagi setelah mendengar pengumuman Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahwa pada hari minggu, (5/4/2020), telah mencatat sebanyak 18 dokter telah meregang nyawa dalam penanganan Covid-19. Secara Psikis kagalauan ini begitu menakutkan bagi mereka yang berada di garda terdepan percepatan penanganan Covid-19. Andai mereka dapat memilih untuk tidak lagi mengobati, dapat dipastikan Indonesia akan melampaui AS, John Hopkins University melaporkan, sebanyak 2.108 orang meninggal dalam 24 jam terakhir hingga Jumat (10/4/2020) malam waktu setempat.
Para audiensi tak hanya mendengarkan materi, namun juga terlibat dalam dialog aktif sebagai tahapa resolusi yang diantaranya berupa saran agar membentuk Tim cyber penanganan berita hoax, atau paling tidak mereduksi berbagai wacana yang dapat menimbulkan reaksi terhadap tenaga medis, keluarga Korban, Pasien, dan jenazah skaligus.
Hal lain yang menjadi output diskusi ialah penggalangan bantuan dan pendampingan terhadap proses penyaluran bantuan secara cepat dan tepat. Selain itu, proses diskusi mengungkit perjalanan sejarah Psikologi moral masyarakat eropa yang cenderung apatis terhadap kemanusiaan. hal tersebut dirujuk dari beberapa referensi peperangan diwilayah eropa dan timur tengah, yang menegaskan bahwa karakter seorang dalam hal ini termasuk juga para tenaga medis selaku masyarakatnya, berpengaruh atas kematian terbesar yang terjadi di AS dan Italia. Indonesia dengan latar belakang gotong royong berdiri diatas persamaan senasib-sepenanggungan dan telah sejak dulu lahir dari rahim budaya dan keragaman moral. selama rakyat tetap turut serta dalam mendukung berbagai bentuk penanganan pandemi, maka basis dasar keutuhan tersebut memungkinkan Indonesia dapat meminimalisir Sosial Disruption akibat COrona VIrus Disease tahun 2019.
Adm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar