tingkat polusi bumi menurun, hingga nampak diberbagai negara potret-potret binatang mengambil alih kota tersebut.
Pandemi meminimalisir aktifitas transportasi umum dan bisnis lokal, saat menginjak waktu 3 bulan, kualitas udara meningkat sekitar 21,5%. Dilansir oleh NASA & European Space dari luar bumi, bahwa penurunan nitrogen dioksida dan emisi CO2 membuat polusi udara berkurang setidaknya 25-50 % diberbagai wilayah negara adidaya dan negara maju. Merekalah penyumbang terbesar dan bertanggung jawab atas polusi didunia. Menurut WHO, polusi menyebapkan rantai penyakit dan kematian setidaknya 7 juta orang per tahun.
Begitupun pada aktifitas manusia diperairan, kanal dan laut dangkal. Batuan sedimen turun kedasar lalu meninggalkan kristal dipermukaan air dan meningkatkan aktifitas hewan didalamnya.
Stabilitas alam nampak dibalik rayuan maut wabah covid-19, dimana ia diklaim juga sebagai simbol peringatan terhadap keserakahan manusia.
kemajuan tehnologi yang mutakhir dan tak terkendali memberdayakan feodal dalam meraup untung serta eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang selanjutnya menciptakan ketidak seimbangan ekologis. hal ini cukup dirasakan dari timbulnya berbagai fenomena sebagai dampak krusial.
jika kesadaran dieksplore secara luas, mestinya pandemi dapat meningkatkan kerjasama Kolektif-global sebagai suatu jaringan dan relasi penanganan wabah dan keberlanjutan alam manusia. inilah tuntutan aktual dan fundamental bagi keberlangsungan kehidupan dan kemanusiaan.
Namun ketika kondisi mulai normal, polusi kembali menjadi salah satu sumber penyebap kerusakan dibumi. Maka setelah wabah ini berakhir, apakah kita masih bisa menjaga gaya hidup kita menjadi lebih baik?
keberlangsungan alam dan manusia berada ditiap kesadaran kita masing-masing.
Kontributor:

Masrur Darwis
Kord. Divisi Teknologi & Informasi
KOMPAS Mapiah Majene
Tidak ada komentar:
Posting Komentar