Media Sosial merupakan sumber akses terbaik bagi perkembangan ekonomi, namun ketika kita membuka laptop, secara tak sadar kita menutup pintu komunakasi dengan dunia nyata.
penghidupan lingkungan sosial tak lagi diminati sejak setiap anak telah memiliki android ditangannya. membuatnya seolah hidup normal, namun anti sosial.
suatu dunia dimana manusia diperbudak oleh karyanya sendiri,
suatu dunia yang dipenuhi kepentingan Pribadi, pencitraan dan Promosi diri,
suatu dunia dimana semua tak lagi saling mengunjungi tuk menikmati perbincangan hangat, bertatapan dan memberikan perhatian yang nyata.
Lalu, secara tidak sadar mereka tergiring pada sebuah kebiasaan baru yang menyita banyak waktu tanpa hasil produktif, hingga harus memendam basic skill yang harusnya memunculkan berbagai entrepreneur shift yang layak bagi kebutuhan khalayak. Mampukah mereka menghadapi dunia nyata, saat digital menyita banyak usia ?
Inovasi tak lagi diperhatikan hingga ekonomi mulai menuntut skill dan Usaha. Media Sosial yang diyakini mampu dengan cepat Mengakses informasi diberbagai bidang justru mulai pincang ketika penggunanya belum menemukan sebagian besar manfaat didalamnya.
Media Internasional banyak merilis, hubungan antara peningkatan SDM bangsa dan perkembangan tehnologi pada zamannya.
namun tetap saja kesadaran begitu kecil dan tidak merata, hingga kebanyakan perseorangan lebih memilih Skip dan mengabaikan visi, bahwa generasi adalah penerus dan pemikul beban dalam bernegara.
Tehnologi selalu meraup banyak prestasi disegala lini, namun produktifitas dan kinerjanya, hanya terlihat asyik ditangan pemberdaya, ditengah-tengah kalangan yang tak berdaya.
saat sebagian begitu eksis dengan ceritanya. tak sadar, ternya kita hanya terjebak pada Perang Ekonomi negara Adidaya yang meraup banyak untung dari para penggunanya.
Lalu kita, hanya semakin menumpuk Pekerjaan Rumah yang semakin rumit dengan inovasi soft skill. Generasi baru terus dilahirkan, namun kita masih mewariskan ketakutan.
Ruang -ruang inovasi begitu penting bagi kemajuan sebuah bangsa. sebap, kecenderungan berkembang dapat mendominasi berbagai aktifitas, sehingga mengurangi berbagai tingkat kejahatan dan pelaku yang kerap pesimis terhadap kehidupan.
Siapa sangka, ditengah ancaman Pandemi Virus, MENDIKBUD (Nadiem Anwar Makarim) memanfaatkan sebuah resolusi baru selama 14 hari libur sekolah demi meminimalisir penyebaran COVID-19. Kemendikbud menyajikan sebuah aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis portal dan android Rumah Belajar yang dapat diakses di belajar.kemdikbud.go.id. Beberapa fitur unggulan yang dapat diakses oleh peserta didik dan guru, di antaranya Sumber Belajar, Kelas Digital, Laboratorium Maya, dan Bank Soal yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat.
Program tersebut bukan hanya mengisi pembelajaran semasa libur, namun juga efektif mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat dalam penggunaan android seperti media sosial, game dan situs-situs yang berbahaya bagi perkembangan moral generasi bangsa. Setelahnya, Peran Pendidik akan sangat dibutuhkan sebagai penguat jalannya peradaban.
Kontributor:

Riswan
Sekretaris Umum Periode 2019-2020
Technology Computer Study Club
TCSC Majene
Tidak ada komentar:
Posting Komentar