Rabu, 20 Mei 2020

REAKSIONER NEGARA INDONESIA TERHADAP MASALAH PERTANIAN

Oleh: Agung Prasetyo

Pertanian dapat Kita artikan sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi dalam mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami sejumlah orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta penggemukan hewan ternak.



Sebagian besar penduduk dunia bermata pencaharian dibidang lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total PDB. Pada tahun 2020 usia 15 tahun ke atas lapangan kerja yang terbanyak adalah sektor pertanian Dan perkebunan (Badan pusat statistik). Ini menjadi bukti bahwa sektor pertanian menjadi penyokong masyarakat untuk memwnuhi kebutuhan hidupnya.

Sebagai pelaku utama dalam pembangunan pertanian Indonesia, Petani memiliki peran penting untuk menghasilkan produk pertanian, baik untuk keperluan bahan pangan maupun industri.
Program dan kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah saat ini mampu mendongkrak dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terbukti dalam kurun waktu empat tahun terakhir, Produk Domestik Bruto (PDB) pada sektor pertanian memang terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Selama periode 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB Sektor pertanian yang mampu dihasilkan mencapai Rp 1.375 Triliun atau naik 47 %. Bahkan tercatat pada tahun 2018 nilai PDB meningkat tajam mencapai Rp 395,7 triliun dibandingkan Triwulan III tahun lalu yang hanya Rp 375,8 triliun (Badan pusat statistik).

Selain tumbuh positif, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin penting dan strategis, hal ini terlihat dari kontribusinya yang semakin meningkat. Pada tahun 2014, Sektor Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) berkontribusi sekitar 13,14 % terhadap ekonomi nasional dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 13,53 %.

Berbagai hal krusial yang dihadapi oleh petani, khususnya pengembangan komoditas unggul serta penataan lahan, menjadi masalah dasar pembangunan pada aspek pertanian. Berikut adalah berbagai masalah petani Indonesia yang perlu diperhatikan. Pertama, permodalan yang kerap membuat petani putus asa dalam mengelola lahan pertanian mereka, biaya pupuk dan saprodi yang begitu besar membuat sebagian petani seakan pasrah akan perawatan yang tidak maksimal, belum lagi ketika hasil pertanian yang sedikit akibat perubahan iklim dan serangan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) yang menyerang tanaman petani. Kedua, permainan tengkulak yang memnfaatkan harga murah Demi kepentintan profit mereka. Masalah selanjutnya adalah masalah lahan yang kurang subur sehingga proses budidaya tidak berjalan dengan baik dan berdampak pada hasil panen petani, lahan yang kurang subur juga mebutuhkan pupuk yang lebih besar karena jika Kita mengharapkan unsur hara tanah maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.

Begitu banyak masalah dalam pertanian Hal ini mebutuhkan perhatikan khusus dari pemerintah atau pihak yang terkait, karena pertanian sebagai penyokong berdirinya suatu negara dalam kebutuhan ekonomi. Belum lagi masalah politik global pertanian dewasa ini yang semakin membuat negara resah dengan komoditas yang di komersilkan. bagaimana tidak, perang dagang sudah terjadi saat ini, negara-negara besar telah melihat bagaimana memanfaatkan negara-negara kecil dalam kebutuhan industri dan ladang korporasi kapitalis dalam meraut keuntungan yang besar.

Masalah yang sering muncul di media dan kerap di bahas oleh kelompok akademisi dalam hal ini mahasiswa dan dosen adalah penolakan Uni Eropa terhadap komoditi sawit indonesia, Hal itu terjadi secara tiba-tiba dan perlu Kita ketahui bahwa komoditi sawit adalah komoditi ekspor yang menyumbang devisa terbesar bagi negara Indonesia. lantas bagaimana nasib petani sawit jika komoditas yang di budidayakannya mengalami masalah atas perdagangan global, apakah ada maksud yang lain menganai rencana penolakan ini. Bukan hanya Indonesia saja yang merasakan dampak ini namun negara tetangga Indonesia seperti Malaysia ikut merasakan dampak penolakan ekspor sawit, alasan uni eropa berkedok di bawah isu perubahan iklim dan isu lingkungan. Namun, Indonesia membuat suatu perencanaan yang sangat seksi dengan melirik biji Nikel sebagai kebutuhan industri Eropa dengan melakukan stop ekspor biji nikel, bisa di katakan perang dagang telah terjadi antara Indonesia dan uni eropa.

Efisiensi penggunaan lahan pada Produksi kelapa sawit di buktikan Indonesia dengan 9 Kali lebih efisien di banding komoditas lain, walaupun begitu salah satu alasan uni eropa menolak kelapa sawit Indonesia adalah lingkungan, yaitu dogorestasi atau pembukaan lahan baru yang dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati dan satwa, namun ketika Kita menganilis bahwa ketika kebutuhan minyak nabati besar maka kelapa sawitlah yang paling membutuhkan lahan yang sedikit dibanding bunga matahari, Luas areal 4 lahan penghasil minyak nabati utama dunia (Kelapa Sawit, Kedelai, Bunga matahari dan Rapeseed) pada tahun 2016 adalah sekitar 200,5 juta Ha dari luasan tersebut, 61% (212 Ha) adalah areal kebun kedelai, Sedangkan luas areal perkebunan kelapa sawit hanya 10%.

Usai cerita menganai masalah kelapa sawit Indonesia mengeluarkan aturan pelarangan ekspor biji nikel dan mineral ke luar negeri. Pelarangan ekspor mineral mentah ini, mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 11 tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara. seakan ini adalah balasan atas kebijakan uni eropa terhadap komoditas sawit sehingga mereka bereaksi dan ingin menggugat Indonesia ke Badan perdagangan dunia world trade organizazion (WTO).

Industri eropa merasakan dampak pelarangan ekspor biji nikel sebab eropa mempunyai industri baja yang cukup besar dan nikel sebagai bahan campuran utama Karena ketika mengkombinasikan nikel besi dan krom maka akan menghasilakan besi anti karat(stenless stell) biasanya di buat untuk alat-alat dapur dan peralatan penting lainnya. Ini menjadi masalah dagang anatara Indonesia dan uni eropa Karena masing-masing negara telah membuat kebijakan mengenai perdagangan internasional yang dalam peraturannya negara membuktikan keagungan dan ambisinya dalam melawan negara tandingannya dan sumber masalah dalam kontrak komoditas pertaniannya.

Jumat, 08 Mei 2020

Redupnya Lampu Pergerakan Milenial

Kebangkitan milenial menjadi suatu tanda berakhirnya kekolotan dan cara hidup Primitif, dua kepribadian ini tak henti saling mendiktekan sikap, cara pandang, kebiasaan serta capaian-capaian kesempurnaan hidup. Perbedaan cara berproses Milenial dan Old Milenial cukup besar. Jika yang satu lebih suka kerja keras yang melelahkan demi sebuah hasil, yang lainnya lebih memilih efektivitas & efisiensi.



Revolusi tehnologi 4.0 telah mereset berbagai cara kerja tatanan hidup manusia, tapi benarkah Transformasi gerak Milenial ini juga mampu bersinergi dalam menjawab berbagai Tuntutan dan kebutuhan sosial?

Dunia berevolusi silih berganti bukan tanpa alasan, Sejak Auman Kebebasan dikumandangkan, manusia merasa memiliki wewenang untuk "mau" atau "tidak" terlibat dalam mencari & menyusun nilai-nilai kehidupan bersama. hukum alam selalu menjadi rujukan atas kehendak antara kepatuhan dan pertentangan, namun layakkah jika kepentingan sebebas-bebasnya diterapkan pada ketergantungan kita antar sesama? dimanakah proses dan nilai itu harus ditempatkan?

Mengatur kualitas hidup bukan lagi sekedar basa-basi pada ruang-ruang diskusi, tapi dituntut untuk diperjuangkan secara bersama-sama demi kemaslahatan umum. Tapi konsep pemikirannya selalu berbeda pada kelas-kelas masyarakat Bijaksana, Intelektual dan Awam. Selisih ketiga konsep tersebut juga tergantung pada perubahan taraf kesejahteraan hidup dan keyakinan manusia.

Percayakah anda, bahwa Zaman digitalisasi telah merubah pola prilaku manusia? pekerjaan manusia pada generasi Old Milenial cenderung serba Manual dan membutuhkan kerja keras, Pendahulu kita selalu mengedepankan prinsip Moral pada prosesnya. sedangkan Zaman Now lebih cenderung Pragmatisme/praktis, mementingkan hasil dan gaya hidup. Inilah yang tidak diteruskan oleh peradaban, sehingga yang nampak pada layar sosmed dominan Materialistik, Pamer kepemilikan & kekuasaan.

Lantas apa yang Salah?
Perbandingan hidup selalu memicu lebih banyak Interaksi atas ujaran kebencian, dari pada mengambilnya sebagai motifasi tuk berusaha. Hukum kehidupan banyak merubah budaya dan asas kepentingan umum, moral dilupakan begitu saja ketika tuntutan perut dan gaya hidup semakin berat di era modern ini, sehingga perbandingan dijadikan landasan untuk menekan orang lain, kerabat atau orang terdekatnya untuk berusaha tanpa mempertimbangkan tahap perkembangannya. terlebih atas dorongan melalui falitas tehnologi yang belum ditopang mapan oleh tanggung jawab Moral.
disilah stigma Pendidikan yang selalu dianggap sebagai batu loncatan dalam mencari kesejahteraan.

Seseorang bisa menilai apapun pada diri orang lain dan mendikte siapapun untuk jadi apapun, namun Pantaskah jika Kita membuat seseorang terburu-buru berproses sesuai waktu kita?
Bukankah proses masih terus berjalan!
Alasan dan tujuan gerak pikiran serta tindakan kita membutuhkan kematangan pada standar logika, etika, agama dan sikap Realistis sesuai hukum sosial yang disepakati sebagai tahap menjalankan kedaulatan Individual, sebap siapapun hanya ditempa sesuai perkembangan zaman dan lingkunganya. Persoalan cara hidup, bukan perbandingan antara Milenial Old (orang tua) dan Kids Zaman Now (anak), tapi nilai yang mandek diantara keberlangsungan keduanya.

Sejarah adalah referensi yang konkrit menjabarkan berbagai peran pemuda dalam mengawal peradaban, karna Pendidikan selalu dituntut untuk menyiapkan seseorang/anak didik untuk mampu mencapai kesejahteraan baik fisik maupun psikis. Dalam rangka menciptakan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa, pemuda dituntut dalam pengetahuan, keterampilan dan kepribadian yang kokoh. Namun, eksistensinya sebagai makhluk sosial yang intelektual dan kritis dipertanyakan, saat proses digitalisasi menyita banyak waktu. Lahirnya teknologi memang menjadi tanda sebuah kemajuan dari sudut pandang materialis, namun pemanfaatan serta proses penyerapannya terhadap kepribadian, melahirkan eksistensi yang dominan apatis dan manja, tehnologi malah sering digunakan berbagai kepentingan tak berkualitas.

Sistem pendidikan mengaku telah mencetak banyak lulusan berkualitas. Tapi angka-angka kelulusan belum sebanding dengan partisipasi kesadaran Pemuda terhadap proses perjalanan sosial. Saat Tehnologi telah salah tempat, maka siapapun akan melihat, redupnya lampu pergerakan Milenial.

Kontributor:
Muhammada Aslan
Ketua Technologi Computer Study Club
TCSC Majene

Senin, 04 Mei 2020

Geopolitik Timur Tengah: Sekarang dan Pasca Corona

Timur Tengah merupakan pusat wilayah dengan interaksi sosial paling sensitif dalam peristiwa-peristiwa penting di dunia. Dalam segi kestrategisan lokasi, politik, ekonomi, kebudayaan dan keagamaan, Wilayah yang menjadi tempat kelahiran dan pusat spritual agama besar seperti Islam, Kristen dan Yahudi itu selain sebagai pusat interaksi manusia terbanyak, dikabarkan menyimpan cadangan minyak mentah dalam jumlah besar, tak heran jika wilayah tersebut menjadi kiblat perdagangan dunia dalam menarik simpatisan dan kerjasama antar negara.

Ditinjau dari Analisis Geostrategi, Faktor geografis merupakan salah satu cakupan dalam hubungan internasional sekaligus pemandu interaksi politik antar negara. Dalam diskusi yang laksanakan oleh Alhikmah Institute makassar, Sabtu (2/5/20) lalu, oleh Dr. Dina Y. Sulaeman (Direktur ICMES Indonesia Centre of Middle East Studies), membeberkan sejumlah persoalan Timur Tengah yang sempat hilang dari fokus media massa.



Sebagai satu-satunya wilayah dengan ladang konflik terpanjang, Regional Timur Tengah dibentuk oleh peperangan dan dominasi kekuasaan negara-negara Eropa sebelum dan sesudah pasca Perang Dunia I & II. Kolonialisme, perebutan perbatasan antar wilayah, konflik Idiologi dan Mazhab dsb, disinyalir sebagai upaya memperebutkan sumber daya minyak serta dominasi investasi ekonomi melalui sains dan Tehnoligi.

Menelisik hierarki kepentingan global, Jalannya dominasi kebijakan internasional diatur oleh kerjasama kepentingan sebuah negara antar aliansinya. Namun, yang begitu menyita segenap perhatian dunia ialah penyalah gunaan Hak Veto yang diberlakukan atas negara Adidaya yang membatalkan sejumlah resolusi perdamaian, khususnya pembentukan Israel dengan mengorbankan Palestina. Cikal-bakal Deklarasi Balfour (Inggris) terhadap Yahudi, sejumlah aktor pengacau eropa, dan Campur tangan PBB melalui AS, menciptakan banyak kejahatan internasional Israel dengan mengambil hak kepemilikan tanah atas Palestina. Perang saudara di Yaman ditengah dominasi masyarakat sunni dan pemberontakan Houthi (syiah Zaidi) atas lemerintahan yang diakui internasional, mendorong pembentukan aliansi Arab dengan sokongan PBB yang mengerucutkan perselisihan Sunni & Syiah.

Kehancuran Khilafah di abad 18 memang berdampak pada perpecahan kepemimpinan islam, namun bukan berarti melemahkan perjuangan tokoh-tokoh islam dikawasan Timur Tengah. buktinya, Iran dan Suriah tetap Frontal atas gangguan AS, meski dalam memerdekakan Palestina harus membuatnya dikecam oleh sejumlah negara-negara Oposisi di Eropa. Kebijakan Anggaran Eropa hanya disetel untuk memenuhi kepentingan kekuasaan di Timur Tengah, ditambah Kekuatan politik AS yang Pro Perang, begitu nampak dari sejumlah Pangkalan militer diberbagai wilayah timur tengah. Benarkah untuk melindungi kedaulatan AS? ataukah untuk perlindungan kerja sama antar aliansinya untuk mendominasi kekuasaan global.

Sejak Who menetapkan Pandemi, negara-negara yang terlibat dalam perdagangan internasional mengalami penurunan yang signifikan, Investasi Eropa di Timur Tengah terhalang oleh stabilitas ekonomi, ketika pusat perdagangan di Arab Saudi menerapkan Lockdown pada akhir maret lalu, Aktor utama Timur Tengah tersebut mengaku, harga minyak menurun drastis. Macetnya perekonomian global, menyeret sejumlah negara berkembang untuk mengutang pada IMF dan Bank Dunia dalam memenuhi hajat hidupnya, terkhusus kelengkapan APD. Satu-satunya kekuatan ekonomi yang mungkin mampu bertahan hanyalah Cina, pasalnya semua negara membutuhkan Masker dan APD. setelah melewati fase kritisnya, Cina ialah salah satu negara yang dapat memproduksi masker dalam jumlah besar dan menjadi supplier APD di Timur Tengah. Bahkan AS sebagai pesaing utamanya pada pasar internasional, sempat membajak APD dengan membayar 3-4 kali lipat dari harga normal kepada Cina, yang selanjutnya memicu kemarahan beberapa negara di Eropa.

Kesuksesan Cina di Industri kesehatan akan sangat diperhitungkan, siapa sangka jika Negara dengan pertumbuhan Ekonomi terbesar kedua setelah AS itu dapat lebih mudah menyelinap diantara As dan kebijakan PBB di Timur Tengah atas jasa APDnya, sekaligus menutup kesimpangsiuran informasi atas Cina terkait senjata biologis yang belum dibuktikan. kemampuannya berbisnis dan investasi diberbagai lini tanpa keterlibatan konflik Ideologi, memberi peluang bagi Cina membuka poros baru ketergantungan ekonomi negara-negara global. Perubahan Rival politik Eropa di Timur Tengah dapat mereset dominasi Kebijakan Global PBB.

Saat Pandemi melemahkan banyak Aktor pengacau di Timur Tengah. Hizbullah, Iran dan Hamas justru dapat bersinergi dan
mengarahkan metode Jihad terhadap penderita covid-19 sehingga mampu memicu tingkan kesembuhan yang tinggi.

Pada dasarnya, setiap orang tidak akan terus berada dirumah, Interaksi manusia adalah proses interaksi ekonomi sekaligus penularan pandemi. Memang setiap negara memiliki cara penanganannya tersendiri. namun, meskipun dilakukan transfer kekayaan secara global, apakah dapat menjamin Pandemi akan berakhir? Pada negara rawan konflik seperti suriah & Yaman, yang lebih menakutkan dari pandemi ialah kelaparan akibat kelangkaan pangan, krisis kemanusiaan, Kehancuran infrastruktur kesehatan yang tidak mampu mendukung upaya penanganan covid, masyarakat sipil yang berada diwilayah kontrol Oposisi/musuh sehingga jauh dari berbagai bantuan dan Kamp pengungsian.
Ditengah wabah Covid, sumber keuangan menyempit, namun mesin perang tetap berjalan. Tutup Diskusi

Kontributor:
Fanny Sulistia Sulaiman
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Ilmu Hubungan Internasional study Timur Tengah
Universitas Halu Oleo

Tekhnologi & Candu

Kemajuan teknologi merambak jauh lebih cepat dari yang kita sadari. ketika beberapa orang sudah banyak melakukan Inovasi dengan banyak kemaj...