Senin, 28 Maret 2022

Kasak-Kusuk Peribadatan

Agama dan mekanisme spiritual dapat dikatakan sebagai komponen utama bagi seseorang dalam menjalin sikap terhadap berbagai proses kehidupan manusia. Namun tak sedikit ruang-ruang peribadatan tersebut mendengungkan pemahaman sempit kepada audiensinya, sekedar upacara seremonial, pengkultusan, hingga dogma yang mengatas namakan kebenaran dangan klausul perintah dan larangan tertentu.

Militansi kelompok memang diperlukan dalam menyebar luaskan kebaikan. Namun jika melibatkan Identitas kelompok tertentu dengan iming-iming alternatif khusus dalam peribadatan atau dengan kepentingan tertentu, lalu diletakkan pada ruang kompetisi atas dasar benar dan salah atau menang dan kalah. maka terjadi bias pada keorisinilan pesan Qauliyah ilahi, multi-tafsir diantara mazhab dan ragu pada keorisinilan atas periwayatan yang sudah benar. sehingga efeknya berimbas pada persengketaan dan sekat-sekat ditengah masyarakat.  

Keluar dari dogma tidak harus dengan melawannya, tapi seseorang harus tau persis kenapa dogma itu diperlukan. seperti kepada sebagian manuasia yang tidak mampu berfikir, maka dogma menjadi penting agar seminimal mungkin seseorang tidak memberikan kontribusi negatif terhadap society.

Jika dicermati lebih jauh, lebih luas dan detail pada sejarah, dari sudut pandang historisme pada masanya. peradaban tumbuh ideal, harmonis, dan adil, sejauh agama ditaati untuk membangun kultur sebuah society. Agama diwariskan dari zaman ke zaman, dengan wujud berbeda sesuai tingkat kompleksitas permasalahan ditengah masyarakatnya. Bukan soal siapa pembawa nubuwatnya, Namun pesan kebaikan dan substansial didalam agama tersebut. Fenomena antar zaman memberikan gambaran dan perbandingan, agar manusia belajar melihat bagaiman jika agama diterapkan seutuhnya atau ditinggalkan. Sepanjang peradaban, konflik pasti terjadi. Yang paling bertahan hanya mereka yang paling adaptif dan benar dalam mentaati agama pada masanya.

Dengan adanya keberagaman kelompok dengan misi kebaikan yang diembannya, semestinya mereka hanya sebagai pembuka jalan, meggambarkan orientasi dan tahap berfikir lalu saling membenarkan satu sama lain. Dengan demikian, perkembangan peradaban tidak dipelopori oleh kepentingan dari kalangan tertentu, untuk tidak menghilangkan keorisinilan pesan-pesan agama. bukannya membawa kebenerannya masing-masing dan mengkafirkan yang lain. 

Paradigma berfikir suatu society tergantung pada perkembangan akses informasi dan laju perkembangan ilmunya. Di abad pertengahan hingga pasca revormasi, sulitnya informasi memberi jeda berfikir cukup lama sebelum suatu pengetahuan dibenarkan dan diterapkan. Namun diera milenial dengan modal komunikasi digital yang mudah, banjir informasi semakin memperkecil naluriah society dalam mensikapi/ mengidentifikasi ilmu. lantaran, Indikator dari proses filterisasi penyerapan pengetahuan yang rumit harus disandarkan kepada segitu banyaknya informasi yang bergulir cepat, sehingga seseorang yang memandangnya, lebih banyak melakukan Skip terhadap hal-hal rumit lalu cenderung cukup berdasar pada Kesenangan dan ketertarikan terhadap hal instan saja. dengan begitu beberapa kalangan/ kelompok tertentu dapat dengan mudah menggiring isu, dogma dan ajarannya kedalam bentuk penyampaian yang sederhana namun menyesatkan. Problematika ini perlu dipandang serius karna perbedaan jumlah dan progresitas dari masyarakat era reformasi kebelakang tidak tertransformasi secara dinamis pada peradaban era milenial.

Observasi tiap orang berbeda baik dari segi pola pikir dan pemaknaannya terhadap sesuatu. karnanya agama selalu mendorong manusia melihat relitas dari makna, bukan fisik atau materialisme, agar kompenen berfikirnya cukup matang untuk melihat representasi yang bijak dalam memahami komponen agama, sosial, dsb.

Ibadah merupakan alternatif paling efektif dalam membangun kekayaan batin manusia, sehingga dalam diri manusia tumbuh mekanisme sebagai proteksi khusus untuk melihat relatifitas dari kebenaran. Membangun stabilitas emosional menjadi filter, sebelum menjadi feedback terhadap sesuatu yang dikritisinya. Jika orang lain melempar batu kepadamu, maka kamu memiliki kedaulatan khusus untuk melempar balik atau mengambil batu itu untuk membangun pondasi kepribadian.

Islam maupun agama manapun mewariskan pesan agar manusia belajar mencari asas makna dan membentuk keunggulan personalitas dari peribadatan yang ia serap dalam agama. Lebih intensif memantau perkembangan diri untuk diimplementasikan secara mandiri melalui keberangkatan berfikir yang lebih bijaksana untuk menciptakan atmosfer kebaikan disekitarnya.

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” sebuah ayat yang memberi dorongan menuju sebuah lompatan berfikir yang dalam terhadap diri sendiri untuk mendekat kepada Tuhannya, atau dapat disebut Metakognitif. Perdebatan terjadi apabila masing-masing pelaku tidak dapat membandingkan dua jalan berfikir yang berbeda. Seseorang yang tidak sadar seberapa jauh ia telah membangun kesadarannya, maka tidak akan mengerti relatifitas pada konsepnya, sehingga sering memandang pemahaman yang ia sampaikan sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan tidak terbantahkan. 

Hadirnya kebijaksanaan ialah sebagai upaya-upaya mentoleransi kurangnya analisis terhadap probabilitas dalam kebenaran. sebagai mana diperintahkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk“. (QS. An-Nahl: 125). inilah pesan-pesan yang menyeru untuk lebih bertoleransi dengan bijaksana dan renda hati, ditengah sulitnya menempatkan akurasi kebenaran dengan tepat.

By. Ngobrol Asik Anak-Bapak

https://youtube.com/c/caknundotcom

Sabtu, 19 Maret 2022

KOMPLEKSITAS KEBENARAN

Sisi relatifitas dari Kebenaran tentunya menggambarkan ketidak mutlakannya, sebap kemutlakan hanya milik Tuhan Semesta Alam. Ketidak pastian itu mengindikasikan bahwa kebenaran bisa ditempuh dengan banyak alternatif, sehingga sifatnya subjektif dan tak jarang menjadi bahan perdebatan yang dapat menimbulkan kegaduhan pada tatanan moral. 

Objektifitas dan relatifitas kebenaran sering menumbuhkan chaos in orderling/ kekacauan dalam tatanan Sebuah Society. Pada kondisi ini sering lahir seorang inspirator yang mampu men-set up sebuah sistem yang memayungi kumpulan manusia. diantara yang telah ada, sebut saja seperti sistem kerajaan, komunisme, demokrasi, Dsb. Berada diatas manusia sebagai wasit dalam relatifitas truth.

Ketika stabilitas mulai tumbuh maka pengetahun dan pemahaman akan konheren dikalangan society, sehingga masyarakatnya cukup pandai untuk mengutak-atik kembali payung/supremasi hukum yang ada. lalu buntutnya, aturan-aturan tersebut akan dianggap tak lagi efektif, sehingga dapat mengulang kembali caos dan ketidak adilan ditengah peradaban.

Disisi lain dari masyarakat dan dunia modern, sebagian besar mereka menolak kasta. Tapi secara natural dalam alam bawah sadar manusia dalam menilai orang lain, pasti membangun kastanya sendiri. Saling berkomplot pada derajat, kalangan maupun gengnya masing-masing, Baik dari segi fasion, kultur, ekonomi, politik maupun berkebangsaan. Ilmu yang diserap dari testimonial lebih banyak dari ruang emperis. Inipun menjadi masalah baru bagi kalangan milenialis.

Mungkinkah ada metodologi secara society yang dipayungi oleh otorita tertentu tuk dipatuhi bersama?, butuh parameter baru yang sedemikian simpel untuk diadopsi seluruh kalangan, yang dapat menjawab berbagai kompleksitas ditengah peradaban masyarakat baru.

Sebagai contoh. jika kebenaran dari penjual adalah harga setingi-tingginya dan kebenaran dari pembeli adalah harga serendah-rendahnya. Maka memerlukan mekanisme pasar yang dapat dipatuhi bersama sebagai interaksi yg adil.

Parameter sangat dibutuhkan sebagai sudut pandang penataan sosial. SosMed memperlihatkan kebenaran relatif dimana parameter kebenaran yg dipercayai adalah popularitas bukan kapabilitas.

sehingga otoritas informasi berasal dari seseorang yang memiliki folower ribuan dan tak berdasar dari para pakar dibidangnya. manusia berkiblat pada gosip dan isu hoax sehingga terjadi bias pada kebenaran sebenarnya.

literasi digital lebih banyak mengkonsumsi mobilisasi kepentingan ketimbang kebenaran yang dirembukkan berdasar Tesis dan Antitesis. sintesa mestinya bukan soal menang dan kalah, namun mengorbankan yang sedikit untuk kebenaran yang lebih besar agar terjadi Conformity dimasyarakat dalam mencari hipotesis terbaik bagi kebaikan bersama. sehingga baik menang atau kalah dapat merasakan kebaikannya dikemudian hari. Konsumsi informasi seupayanya tidak berdasarkan pada hirarki kepopuleran melainkan keilmuan yang dapan mencerahkan satu sama lain.

Seiring bertambahnya kompleksitas ditengah peradaban, proses regenerasi dalam pergerakan kapabilitas keilmuan serta kemaslahatan seakan bergerak lambat. Belum ada metodologi secara society yang dipayungi secara otorita tuk dipatuhi bersama dalam menjawab kebenaran relatif tersebut. Beregenerasi memerlukan kemampuan bagi society tuk berinisiasi memperbaiki diri dari tidak sehatnya ruang publik dan media sosial dalam menginterpretasi kebenaran tuk diterapkan dalam kehidupan, sehingga tercipta proses kultur dan ruang publik yang kondusif.

Kemajuan tehnologi membuka informasi yang sedemikian banyak dan cepat, namun memberi efek dimana manusia diberi ruang sangat kecil tuk beradaptasi secara kultural. Misal, pada Obrolan diwarung kopi dengan impac fitnahnya lebih kecil, yang jika dibawab pada obrolan ruang publik sosmed yang bisa dibaca siapa saja, dapat memberi impac fitnah maupun pertengkaran lebih dominan. Sehingga Kultur pada realita banyak mengalami pengendapan, apalagi ditangan kaum rebahan yang dominan suka berselancar scrolling didunia maya. Dengan menggunakan energi sesedikit mungkin, mendapatkan kesengsaraan seminimal mungkin untuk meraup kenikmatan sebanyak mungkin. atau biasa disebut zona nyaman. Maka kemunduran per-adab-an tak dapat dipungkiri.

Memang tidak semua orang/ Society akan tenggelam pada ilusi tersebut. ketika beberapa orang masih tetap bertahan pada posisi objektifnya, menggunakan perangkat tehnologi secara tepat dan memiliki kesempatan menjadi seorang inspirator bagi ruang-ruang publik didunia maya ataupun realita, maka society akan di Direc oleh orang-orang berkompeten, sehingga Mekanisme dan dinamika yg terjadi dapat menjawab berbagai masalah secara natural.

seorang yang subjektif kadang tak dapat memisahkan antara data dengan asumsi. Sebenarnya yang menggiring adanya konklusi/kesimpulan adalah data, bukan asumsi atau pandangan pribadi.

misalnya, data dikumpulkan dari 1 kejadian selama 10 menit dari media sosial/ ekspresi seseorang, lalu dipadukan dengan pengalaman diri tuk melahirkan sebuah asumsi, seolah-olang dirimu punya pandangan lengkap tentang seseorang/ kejadian itu. itulah yang menjadi salah satu dasar lahirnya Pro-Kontra dalam society.

Observasi harusnya melihat lebih dalam story dan data sesuatu, sebelum melahirkan Prejudis/prasangka. Sebap objek hanya berubah jika data berubah, namun jika terlalu dini dalam berasumsi maka perubahan data tidak akan merubah gambaran dari prilaku objek. 

lebih baik tidak tau, dari pada mengarang pengetahuan dan lebih baik tidak tau, dari pada mengisi lubang data dengan asumsi.

Disiplin obyektif sangat penting tuk memiliki kesadaran penuh, tentang limitasi berfikir kita. sejauh apa sih kemampuan kesadaran diri yang akan kita alami seumur hidup ini !

seorang bisa merasakan seperti apa itu marah jika dia pernah marah, seperti apa sedih jika dia pernah sedih, dari situ kosa kata dan penilaian tumbuh menjadi tolak ukur. Namun, detail-tidaknya suatu penilaian terhadap sesuatu fenomena tergantung sedalam apa seorang pribadi mengerti ekspresi yg dia alami. karna 90% alam bawah sadarnya akan sangat mempengaruhi apa yg akan dia katakan.

Menjadi Observer terhadap diri sendiri dan memberi jarak antara Selera dengan data yg kita kumpulkan mengenai sesuatu akan memberi gambaran lebih objektif. Upaya penilaian terhadap relatifitas suatu persoalan, setidaknya tidak meleset jauh dari Realita yang terjadi.


By. Noe


Tekhnologi & Candu

Kemajuan teknologi merambak jauh lebih cepat dari yang kita sadari. ketika beberapa orang sudah banyak melakukan Inovasi dengan banyak kemaj...